Search This Blog

Pages

Saturday, October 1, 2011

Kini Dia Layu

Cerianya tak seceria dulu.
Senyumnya tak semerkah dulu.
Tawanya tak semeriah dulu.
Ia layu. Ia layu.
Tapi masih tampak segar dan tegar.
Dulu yang hendak ku petik namun tak jadi, kini dirusak orang.
Sayang berkali-kali sayang. Semua hanya meninggalkan para saksi bisu.
Saksi-saksi bisu yang hanya akan berbicara saat Tuhan berkehendak.
Konyol emang konyol jalan cerita ini.
Sebuah acungan yang merusak semuanya.
Dia takkan turun sebelum semuanya hancur.
Setelah ia turun, hanya sisa-sisa kehampaan yang ada.
Tak tau. Ku tau tau apa-apa.
Mungkinkah ini juga salahku yang dulu tak jadi memetiknya?
Layu ia. Layu ia.
Tapi sebuah senyuman keterpaksaannya tetap akan menarik setiap orang yang meliriknya.pi masih tampak segar dan tegar.
Dulu yang hendak ku petik namun tak jadi, kini dirusak orang.
Sayang berkali-kali sayang. Semua hanya meninggalkan para saksi bisu.
Saksi-saksi bisu yang hanya akan berbicara saat Tuhan berkehendak.
Konyol emang konyol jalan cerita ini.
Sebuah acungan yang merusak semuanya.
Dia takkan turun sebelum semuanya hancur.
Setelah ia turun, hanya sisa-sisa kehampaan yang ada.
Tak tau. Ku tau tau apa-apa.
Mungkinkah ini juga salahku yang dulu tak jadi memetiknya?
Layu ia. Layu ia.
Tapi sebuah senyuman keterpaksaannya tetap akan menarik setiap orang yang meliriknya.

2 comments:

Oki Setiawan said...

biar apa d ulang2?????????

Anonymous said...

biar berasa di dramatisir